REPELITA.ONLINE – Penutupan Expo HIMARI Tahun 2026 di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, yang dihadiri Penasehat HIMARI Dr. Sindi, S.H., M.H. dan Tuslam, S.Pt., M.Si., menjadi perhatian publik setelah isi pidato yang disampaikan lebih banyak menyinggung persoalan pembangunan infrastruktur daerah dibandingkan evaluasi maupun arah pengembangan organisasi mahasiswa.
Dalam sambutannya, Dr. Sindi, S.H., M.H. menyampaikan bahwa apabila ada masyarakat atau orang tua mahasiswa yang mempertanyakan mengapa belum ada perbaikan jalan, mahasiswa diminta memberikan penjelasan bahwa pemerintah sedang melakukan pemerataan pembangunan hingga ke berbagai sektor dan wilayah. Ia juga menyebut keterbatasan anggaran sebagai kendala, dengan kebutuhan anggaran pembangunan yang diperkirakan mencapai sekitar Rp360 miliar.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan tanda tanya. Sebagian pihak mempertanyakan mengapa isu pembangunan jalan dan penjelasan mengenai kebijakan pemerintah menjadi materi utama dalam pidato penutupan sebuah kegiatan mahasiswa yang seharusnya lebih menitikberatkan pada capaian Expo HIMARI, pembinaan generasi muda, serta penguatan peran mahasiswa bagi daerah.
Di sisi lain, Sekretaris Daerah Kabupaten Tebo juga menyampaikan bahwa Bupati berencana menghibahkan lahan seluas 5,8 hektare untuk pembangunan sekolah yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Informasi tersebut tentu merupakan kabar yang patut diapresiasi apabila terealisasi. Namun, penyampaiannya dalam forum penutupan Expo HIMARI kembali memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Sejumlah kalangan menilai bahwa penyampaian berbagai penjelasan mengenai program pemerintah dalam forum tersebut dapat memunculkan beragam tafsir. Di antaranya, apakah penyampaian itu dimaksudkan sebagai bentuk transparansi kepada mahasiswa, atau sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian mahasiswa terhadap isu-isu pembangunan daerah. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di ruang publik, namun hingga kini tidak ada pernyataan resmi yang menjelaskan alasan pemilihan materi pidato tersebut.
Mahasiswa pada hakikatnya merupakan mitra kritis pemerintah. Peran mereka bukan hanya mendukung pembangunan, tetapi juga memberikan masukan, kritik, dan pengawasan yang konstruktif demi kepentingan masyarakat. Karena itu, ruang dialog yang terbuka antara pemerintah dan mahasiswa menjadi hal yang penting agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda-beda di tengah publik.
Expo HIMARI selama ini dikenal sebagai wadah pengembangan potensi, kreativitas, dan persatuan mahasiswa asal Rimbo. Oleh sebab itu, publik berharap setiap momentum organisasi kemahasiswaan tetap menjadi ruang independen untuk membangun gagasan, bukan sekadar tempat penyampaian narasi yang berpotensi memunculkan polemik.
Masyarakat juga berharap pemerintah terus membuka ruang komunikasi yang sehat dengan mahasiswa. Kritik bukanlah ancaman, melainkan bagian dari kontrol sosial dalam sistem demokrasi. Sebaliknya, mahasiswa pun diharapkan tetap menyampaikan aspirasi secara objektif, berdasarkan data dan fakta, demi mendorong pembangunan Kabupaten Tebo yang lebih baik. **(R)
Penulis : Andi Putra Jambi






